Home / Slide / Gerakan Tanah Ancam Permukiman Warga Maribaya, 13 Rumah Rusak, 6 Rumah Terancam

Gerakan Tanah Ancam Permukiman Warga Maribaya, 13 Rumah Rusak, 6 Rumah Terancam

PURBALINGGA — Gerakan tanah yang terus berlangsung di Dusun Karangtengah, Desa Maribaya, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, kini memasuki tahap mengkhawatirkan. Laju pergerakan tanah mencapai 10 cm per hari, mengakibatkan 12 rumah warga rusak, lima di antaranya dalam kategori rusak berat. Sejumlah warga telah mengungsi demi keselamatan.

Bencana ini bermula sejak curah hujan ekstrem melanda wilayah tersebut pada pertengahan Mei. Tanah di sekitar permukiman RT 04/RW 03 mulai menunjukkan rekahan sejak 14 Mei 2025. Puncaknya, Sabtu dini hari (17/5), terjadi pergerakan tanah signifikan yang merusak beberapa bangunan warga, termasuk dapur milik Pak Kurdin dan Pak Warso.

“Retakan dan kemiringan bangunan mulai terasa sejak 16 Mei. Ada suara retak dari dinding dan lantai,” ujar Kusmeri, salah satu warga terdampak.

BPBD dan Tim Geologi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) telah melakukan asesmen teknis. Hasil kajian menyebutkan bahwa lokasi gerakan tanah berada di lereng pegunungan “Sisik Naga” dengan kemiringan lereng mencapai 45 derajat. Material tanah didominasi lempung dan pasir hasil pelapukan formasi geologi Tapak. Rekahan tanah yang terbentuk memiliki kedalaman antara 20 cm hingga 2 meter, dan memanjang hampir 100 meter.

Yang mengkhawatirkan, gerakan tanah ini membentuk pola tapal kuda, ciri khas gerakan tanah aktif, disertai keluarnya mata air baru di beberapa titik. Sebaliknya, sumur warga justru mengering, mengindikasikan perubahan drastis pada aliran air bawah tanah.

Dampak yang ditimbulkan:

  • 13 rumah terdampak, 6 rusak berat, 7 rusak sedang.
  • 6 rumah terancam
  • Kerusakan struktural termasuk lantai amblas, pondasi terangkat, dan dinding retak.
  • Pengungsi : Lima kepala keluarga telah dievakuasi ke tempat aman, sementara dua lainnya disarankan mengungsi segera.

Langkah-langkah penanganan telah dilakukan, antara lain:

  • Kaji cepat oleh BPBD sejak 17 Mei 2025
  • Penyaluran bantuan logistik oleh BPBD, Dinsos, BAZNAS, dan PMI.
  • Asesmen teknis oleh Tim Geologi Unsoed.
  • Warga melakukan upaya mitigasi lokal seperti pemasangan terpal dan pembersihan rekahan.

Rekomendasi dari Tim Geologi Unsoed antara lain:

  • Pengendalian air permukaan dan bawah tanah dengan pembuatan saluran langsung ke sungai.
  • Pemasangan cerucuk penahan tanah di titik-titik aktif.
  • Pemasangan sistem peringatan dini (EWS) untuk mengantisipasi longsor susulan.

“Gerakan tanah masih aktif dan berpotensi meluas, apalagi saat turun hujan,” jelas Dr. Ir. Indra Permanajati, ST., MT, tim Geologi Unsoed.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Ir. Prayitno, M.Si., menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera mengungsi bila rumah menunjukkan tanda-tanda kerusakan struktural serius.

“Kami terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta warga,” tegasnya.

Situasi saat ini masih belum stabil. Warga diharapkan tidak beraktivitas terlalu dekat dengan area longsoran yang belum dibersihkan. Sejumlah pintu rumah warga bahkan sudah tidak bisa dibuka-tutup karena pergeseran pondasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Agustus 2025
M S S R K J S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori